Hujan dan Sepasang Kaus Kaki

ukdm/ August 11, 2016/ Cerpen Islam, Dakwah, Kemuslimahan

          

Hujan membuat Zara lupa tentang kaus kaki. Dan akhirnya basah.

Hujan membuat Zara lupa tentang kaus kaki. Dan akhirnya basah.

 Zara tak henti melirik ponselnya. Dilihatnya angka yang ada di sana 12.35. Tidak biasanya ia belum berada di kampus pukul segini. Biasanya pukul 12 saja dia sudah tiba di kelas, menjadi orang pertama yang hadir di sana. Namun hari ini berbeda, ia mengerjakan tugas kelompok dulu di kos temannya.

 Ia melirik lagi ponselnya, 12.45. Hujan masih juga belum reda.

“Gimana Zara? Masih ujan. Ga apa-apa lah kita berangkat jam 1 ajalah.” Ucap Mei.

Zara hanya mengangguk pelan. Ada yang tak disetujui hatinya. Tak biasa baginya terlambat. Tapi saat harus menghargai pendapat temannya, Zara susah untuk menolak. Lagi pula memang benar di luar hujan masih deras. Zara tak membawa payung hari itu. Ia pelupa, payungnya tertinggal di angkot dan baru menyadarinya setelah sekian hari.

“Aku ga bawa kaus kaki cadangan ini.” Ucap Zara.

“Aku ada, kalau kamu mau pinjam.”

Percakapan itu hanya berakhir di sana. Zara dan Mei lupa tentang kaus kaki ini. Hanya sibuk memikirkan hujan yang masih saja belum reda.

Zara melirik lagi ponselnya untuk sekian kali. 12.50. Ia mulai memasukkan barang-barang ke tasnya. “Ayo kita pergi.” Ucapnya. Baginya hujan adalah kesenangan bukan sesuatu yang ditakutkan. Hujan bukan penghalang untuknya beraktivitas. Begitulah Zara, pecinta hujan.

Mei membuka pintu, mengamati derasnya hujan. “Pasti baju kita basah ini kalau berangkat sekarang. Tunggu dulu saja beberapa menit lagi. Dosennya juga suka terlambat.” Ucap Mei. Zara hanya diam tidak mengiyakan dan juga tidak mengatakan tidak. Hening. Hanya irama  rintikan hujan yang terdengar kala itu.

Setelah beberapa menit, Mei pergi mengeluarkan motornya dari tempat parkir sebelah rumah kos. Zara tahu, Mei sedikit memendam kesal dalam hatinya. Ah, egois sekali aku. Pikir Zara. Mungkin kedewasaanya yang membuat Mei lebih sering mengalah. Zara dan Mei masih lupa tentang kaus kaki. Mereka pergi menuju kampus, sudah sangat terlambat bagi Zara.

Hujan menyapa mereka dalam perjalanan. Singkat memang, hanya 7 menit, tapi kebersamaan hujan membuat mereka tak bisa menghindar. Basah. Hujan semakin deras. Mereka turun dari motor. Dan… ah tidak, air menggenang di sana. Mei dan Zara lupa tentang kaus kaki cadangan. Sulit untuk menghindar dari genangan air hujan itu, mungkin mengatakan banjir 15 cm tepat, ah entahlah, yang jelas kaus kaki dan sepatu mereka basah.

Zara dan Mei berlari. Berkejaran dengan waktu yang tak pernah lelah melaju. Tak ada pilihan lain selain mengorbankan sepatu dan juga kaus kakinya yang akan basah. Dan benar-benar basah. Ah tidak, kaus kaki cadangan? Mengapa Zara dan Mei lupa membawanya. Di perjalanan menuju kelas, Zara teringat seorang penulis tumblr, Seto Wibowo, yang di setiap tulisannya selalu menulis ini “Jangan lupa bawa kaus kaki cadangan.” Ah ya, Zara baru merasakannya sekarang.

Mei dan Zara tiba di kelas. Masih gaduh. Ah, rupanya dosen belum hadir. Tuh kan belum hadir,ga usah buru-buru harsnya tadi, daripada baju dan sepatu basah gini. Batin Mei. Eh, tapi ini kan sudah ketetapan Allah, ko aku bilang gitu ya. Ah, sudahlah semua sudah terjadi dan waktu takkan terulang lagi. Lanjut batinnya.

Zara diam. Menikmati irama hujan yang masih juga belum reda. Ia membuka ponselnya, mencari kontak seseorang untuk ia hubungi. Tak bisa ia gunakan kaus kaki basah untuk agendanya setelah kuliah ini. Tapi jika tidak digunakan, ia meyakini bahwa kaus kaki itu wajib digunakan. Karenanya ia meyakini aurat perempuan adalah seluruh tubuh kecuali muka dan dari telapak tangan, maksudnya bukan hanya telapak tangannya saja, tapi balik telapak tangan juga, sehingga ia meyakini kaus kaki wajib digunakan. Tapi saat ini kaus kakinya basah. Tak nyaman ia gunakan. Kalau nanti digunakan, apalagi juga akan berhadapan dengan banyak orang, mungkin membuat orang merasa tak nyaman juga di dekatnya. Itu tak mencerminkan pribadi muslim.

Zara terus mencari kontak di ponselnya. Ah ya, Asma. Ia menelepon Asma. “Assalamu’alaikum. Asma, boleh minta tolong? Lagi ada kelas ga? Bisa tolong belikan kaus kaki? Kaus kakiku basah tadi kehujanan.”

“Iya insyaallah.”

Ah Alhamdulillah. Selalu ada jalan untuk taat. Hanya sepasang kaus kaki, kecil memang. Tapi biasanya hal kecilah yang menjadikan sesuatu sempurna. Seperti uang satu juta kurang 100 rupiah, 100 rupiah memang kecil tapi menjadikan 1 juta sempurna. Begitulah juga dengan kaus kaki ini.

Zara mengambil buku dan menuliskan 1 kalimat di sana

“JANGAN LUPA BAWA KAUS KAKI CADANGAN”

***

Penulis: Shelyna Fauziah S. (Ketua Bidang Syiar UKDM Emas)

Sumber Gambar: sholihah.web.id

About ukdm

Website resmi Lembaga Dakwah Kampus | Unit Kegiatan Dakwah Mahasiswa | Universitas Pendidikan Indonesia | #KarenaIslamMilikKitaSemua

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*