“Akademik Mantap, Organisasi Hebat” Oleh Asep Ahid S.Si.

Notulensi Kajian Online (K-ON)

 “Akademik Mantap, Organisasi Hebat”

Sabtu, 27 April  2019

Asep Ahid, S.Si

 

SESI PEMATERIAN

Berbicara tentang akademik dan organisasi, biasanya menjadi hal yang dilematis ketika seorang aktivis dibenturkan dengan akademisi. Seolah aktivis dan akademisi tidak bisa berjalan beriring, bersama berdampingan satu sama lain. Seolah aktivis dan akademisi berada di ruang yang berbeda.

Padahal nyatanya, keduanya ada di ruang yang sama, jasad yang satu, yaitu kamu. Sehingga, sebelum kita berbicara tentang mantap dan hebat, mari kita awali dari dasar diri kita sebagai seorang muslim.

Dalam islam, ada yang namanya tawazun, yang berarti keseimbangan. Tawazun sangat penting dalam kehidupan. Biasanya tawazun dikaitkan dengan menyikapi dua atau beberapa amal yang mesti dilakukan agar sikapnya tepat (adil): memberikan hak kepada yang berhak.


“Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan) (7). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu (8). Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu (9).”
(QS. Ar-Rahman:7-9)

Dalam surat di atas ada tiga sikap:

  • Tawazun: Dia meletakkan neraca (keadilan)
  • Jangan berlebihan: jangan melampaui
  • Jangan mengurangi: janganlah kamu mengurangi

Sehingga sesungguhnya ketika menjadi mahasiswa, apalagi aktif di dalam organisasi, maka janganlah mendzalimi, harus bersikap adil dengan memberikan yang terbaik.

Allah menciptakan manusia dengan membawa fitrah (QS. Ar-Rum:30) yang suci (Islam dan Tauhid, QS. Al-Araf:172).

“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.”

Kita diciptakan sebagai seorang hamba, yang mana sejak alam ruh kita telah menyatakan bahwa Allah lah Rabb kita, Tuhan semesta alam. Itu sebagai pijakan, bahwa keseimbangan merupakan hal yang Allah perintahkan, jangan sampai melampaui batas

Kemudian hari ini bagi kita yang aktif di kampus dan merasa bingung bagaimana agar semuanya seimbang, jawabannya sederhana: LAKUKAN YANG TERBAIK. Sederhananya, ketika di kelas fokus belajar, ketika rapat fokus organisasi. Terkadang kita suka kebalik, ketika di kelas mikirin rapat, ketika rapat mikirin tugas akademik. Akhirnya tidak optimal di keduanya.

Terkadang kita juga menilai diri kita berdasarkan standar orang lain. Padahal boleh jadi amat berbeda. Mulai dari cara belajar yang optimal untuk kita, sampai ke potensi terbaik kita. Sehingga temukanlah pola diri kita sendiri, pertajam di sana agar kita bisa memberikan yang terbaik. Fastabiqul khayrat.

 

SESI DISKUSI

  1. Apakah dari awal masuk kuliah pemateri memang sudah diniatkan menjadi organisatoris dan akademisi atau kecemplung dulu baru membuat semua terwujud ?

 

Ketika pertama masuk kampus, Kang Asep Ahid masuk jalur SBMPTN jurusan kimia dan berminat menjadi mahasiswa kupu-kupu karena saat itu merasa telah cukup dengan pengalaman organisasi sewaktu SMA. Sewaktu di SMA Kang Asep Ahid mengikuti 8 ekskul. Namun saat masuk ke dalam kampus ditemukanlah hal yang berbeda, apalagi saat orientasi kampus tingkat universitas (MOKA-KU), diajarkan tentang bagaimana sesungguhnya mahasiswa itu harus bertindak dan berlaku.. Di himpunan pun bertemu dengan senior-senior yang luar biasa yang mengajarkan fungsi dan peran mahasiswa, yakni tidak sekadar insan akademisi yang belajar di ruang kelas, sebab ada hak-hak orang di luar sana yang mesti kita bantu.

 

Kelas adalah batas, maka belajarlah untuk melewatinya. Karena kelas adalah tempat belajar, untuk di mana? Untuk hidup di luar kelas.

 

  1. Bagaimana jika orangtua berkata jangan aktif di organisasi nanti nilai menurun?

 

Sebenarnya, kekhawatiran akan nilai turun setelah mengikuti organisasi adalah kekhawatiran banyak mahasiswa. Kang Asep Ahid memiliki pengalaman saat di semester 4, diamanahkan sebagai ketua himpunan, malah IP saat itu adalah IP terbesar. Saat itu diaplikasikan ilmu manajemen waktu dan skala prioritas. Banyak pengalaman dari senior-senior yang lain bahwa ketika aktif organisasi, nilai-nilainya tidak terbengkalai. Bisa stabil, bisa lebih baik.

Bagaimana jika orang tua kita khawatir? Hal tersebut wajar karena orang tua adalah orang yang membesarkan, mencintai, membiayai kita. Sehingga kita harus membuktikan. Dan sebagai awalan kita juga harus membangun komunikasi yang baik kepada orang tua.

 

  1. Dalam beraktivitas kita harus melakukan time management tetapi kadang rasa malas mengacaukan agenda yang telah dibuat. Bagaimana cara untuk mengatasi rasa malas tersebut?

Pertama, kita harus berdoa kepada Allah agar dihindarkan dari rasa malas. Doanya: Allahumma inni a’udzu bika minal Hammi wal hazan, wa a’udzu bika minal ‘ajzi wal kasal, wa a’udzu bika minal jubni wal bukhl, wa a’udzu bika min ghalabatid dain wa qahrir rijal. Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari kebingungan dan kesedihan. Aku berlindung kepada-Mu dari ketidakberdayaan dan kemalasan. Aku berlindung kepada-Mu dari kepengecutan dan kekikiran. Aku berlindung kepada-Mu dari lilitan hutang dan penindasan orang”.

 

Kedua, kita harus bergerak. Bergerak atau tergantikan. Jika ingin menjadi yang terbaik maka harus memberikan yang terbaik. Kedisiplinan lah yang akan mengantarkan kita pada kesuksesan.

Tiada kesuksesan tanpa kedisplinan

 

Kita juga harus memiliki teman yang sefrekuensi dengan kita. Dan saat kita lemah, malas, lesu, mereka siap untuk membantu dan menyemangati kita. Sudahkah kita memiliki kawan yang seperti itu?

 

  1. Bagaimana menentukan skala prioritas dalam menjalani organisasi maupun akademik?

 

Skala prioritas antara organisasi dan akademik itu tidak saklek. Tergantung pada situasi dan kondisinya dan yang paling tahu adalah diri kita masing-masing. Contohnya saat besok ada ujian dan kita harus belajar sore ini. Sementara di sore ini ada rapat kepanitiaan. Karena misalnya kita tipe yang harus belajar lebih lama, jadi kita izin tidak hadir rapat. Bisa berbeda kondisinya untuk tiap orang.

 

Yang paling penting adalah bagaimana kita membangun komunikasi. Jangan sampai ada orang yang pada akhirnya terdzalimi karena kita yang tiba-tiba menghilang dalam organisasi.

 

Akademik dan organisasi merupakan amanah yang sama posisinya. Sehingga niat akan menjadi pondasinya. Ketika belajar kita berniat untuk ibadah kepada Allah. Ketika berorganisasi kita berniat untuk bermanfaat bagi orang lain, itu juga perintah Allah. Sehingga keduanya sama-sama kebaikan dan ibadah. Ingatlah janji Allah: “Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad:7)

 

  1. Bagaimana jika orang-orang yang dulu mendukung dan mempercayakan saya pada suatu amanah raib dan saya tidak optimal dalam menjalankannya?

 

Yang pertama, amanah tidak jatuh pada pundak yang salah. Pertanyaannya, dari mana kita mendapat amanah tersebut? Hakikatnya yang memberikan amanah adalah Allah Swt. Maka ketika menyatakan kesiapan dalam amanah kita niatkan untuk Allah. Ketika orang-orang yang dulu mendukung dan mempercayakan hilang, sesungguhnya Allah tidak pernah hilang.

 

Fadzkurunii adzkurkum, wasykurulii wa laa takfuruun.

ingatlah kalian kepada-Ku maka Aku (Allah) akan ingat kepada kalian, dan bersyukurlah atas nikmat-Ku dan janganlah jadi orang-orang kufur.”

 

Yang kedua, ketika di awal kita merasa mendapat amanah yang tidak terlalu kita pahami. Maka saat kita menerima amanah itu Allah lah yang akan memberikan kemampuan. Dalilnya adalah: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya (QS. Al-Baqarah:286). Ketika amanah itu datang Allah akan memberikan kemampuan, kapasitas, kapabilitas bagi kita.

 

PENUTUP

Untuk yang sedang aktif baik di organisasi, kegiatan sosial, dan sebagainya, satu hal yang harus dipegang adalah prioritaskan orang lain. Sehingga pengorbanan akan berbanding lurus dengan amanah. Berikanlah yang terbaik sehingga kita mendapat balasan terbaik dari Allah Swt.

Kita seorang pemuda, kita diberikan satu masa kuat di antara dua masa lemah. Manfaatkanlah masa muda kita.                                                     

“Bukan amanah yang dikurangi, tetapi pengorbanan yang ditambah”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *