“Coba Berwirausaha? Siapa Takut” Oleh Choerul Umam

NOTULENSI KAJIAN ONLINE (K-ON)

“Coba Berwirausaha? Siapa Takut”

Sabtu, 03 Agustus 2019

Oleh Choerul Umam

Bismillahirrahmannirahim

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Pertama kita mengucapkan syukur Alhamdulillah kepada Allah SWT atas karunia yang telah Allah curahkan kepada kita semua, nikmat sehat, nikmat ukhuwah,bahkan nikmat iman yang tidak dapat kita bandingkan dengan apapun. Patutnya kita mensyukuri itu semua dengan mengucapkan hamdalah dan kita gunakan apa yang Allah titipkan kepada kita dan apa yang telah Allah karuniakan kepada kita untuk dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan untuk digunakan dalam hal-hal yang baik maka itu menjadi sebuah rasa syukur kita kepada Allah SWT. Jangan sampai apa yang Allah titipkan kepada kita menjadi sebuah tabungan amal yang dapat mencelakakan kita di kemudian hari. Kita bersama-sama sekuat tenaga untuk berada dalam hal-hal yang baik dan menggunakan segala yang Allah karuniakan kepada kita.

Berwirausaha ? Dimulailah dari pengalaman mencoba berjualan sepatu gunung,parfum dan coklat saat dibangku SMA walaupun sedikit pembeli dan latar belakang keluarga pedagang, jadi saat masih kecil,saya sering disuruh belanja dan menjaga warung ibu saya. Pengalaman itu mahal karena kita tidak bisa mengulang kejadian masa lalu. Maka dari itu apa yang kita lakukan hari ini itu akan menjadi kenangan dan akan menjadi modal di kemudian masa depan nanti. Jadi jangan sia-siakan aktivitas hari ini untuk kita meraih apa yang kita inginkan di masa depan. Maka dari situlah saya mulai tertarik untuk berwirausaha sampai sekarang dan semoga ini pilihan terbaik dari Allah untuk saya dan keluarga saya.

Apakah kita sudah memiliki figure atau tokoh yang akan kita ikuti atau sebagai referensi kita untuk melaksanakan aktivitas berwirausaha? Atau belum ? Ketika belum maka kita harus mencari tokoh yang akan kita ikuti aktivitas bisnisnya. Jangan sampai kita ingin berenang dan ingin menjadi perenang professional tapi kita tidak memiliki pelatih atau tidak punya referensi tokoh yang dapat kita ikuti tentang cara berenang yang baik. Jika ada tokoh yang dapat kita ikuti maka step-by-step nya akan menjadi mudah untuk menjadi perenang professional. Nah, dalam berwirausaha juga sama, ketika kita tidak memiliki figure, maka akan terdapat ranjau-ranjau yang kita tidak tau akibatnya kita akan kena perangkap tersebut.

Ranjau-ranjau itu apa ? dalam berwirausaha banyak sekali ranjau-ranjau tersebut. Lalu bagaimana kita berjualan yang baik ? ketika kita menjual barang apakah pembeli itu membeli dengan ikhlas atau sesama pihak bisa saling menerima. Atau apa salah satu pihak yang tidak menerima ? nah itulah ranjau. Jika ada satu pihak yang di dzolimi maka nauzubillah akan terkena doa yang tidak baik. Contohnya pembeli tidak mau membeli barang ditempat dagang kita, pembeli berkata kalau pedagangnya tidak jujur dan mendoakan semoga pembeli lain tidak ada yang dating untuk membeli dan lain-lain. Jangan sampai kita terkena ranjau-ranjau tersebut karena akan merugikan kita bahkan aktivitas kita. Maka dari itu, untuk seorang figure atau tokoh perlu dalam aktivitas kita.

Alhamdulillah kita sebagai muslim, kita memiliki tokoh atau figure yang akan kita teladani. Tokoh ini tokoh yang aspek kehidupannya baik dan dapat dicontoh, tidak hanya ibadah saja tetapi juga dalam berwirausaha dapat kita contoh  yaitu Nabi Muhammad SAW.

Mengupas bagaimana Rasullullah SAW berwirausaha atau berdagang ? kita akan mempelajari dan mengambil hikmah dari perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW. Saya mengutip dari perkataan Muhammad Syafi Antonio, beliau adalah pendiri sekolah tinggi ilmu ekonomi islam taskiya. Beliau mengatakan salah satu aspek kehidupan Nabi Muhammad SAW yang kurang mendapatkan perhatian serius adalah kepemimpinan beliau dibidang bisnis dan wirausaha. Nah, teman-teman sekalian, kita mengenal Nabi Muhammad SAW juga seorang Rasul, pendakwah, pemimpin masyarakat atau Negara, bahkan pemimpin militer. Padahal sebagian kehidupan Rasullullah sebelum menjadi utusan Allah adalah sebagai seorang pengusaha. Nabi Muhammad SAW telah memulai atau merintis karir dagangnya itu ketika Rasulullah berusia 12 tahun, dan memulai usahanya sendiri itu ketika berusia 17 tahun. Pekerjaan ini terus Rasulullah lakukan sampai menjelang beliau menerima wahyu. Dengan demikian, Nabi Muhammad SAW telah berprofesi sebagai pedagang pada saat beliau merintis karir berdagang pada usia 12 tahun sampai menjelang beliau menerima wahyu yaitu saat berusia  37 tahun dan pada akhirnya beliau diangkat sebagai rasul yaitu usia 40 tahun.  Nah dari usia 12-37 tahun, maka kurang lebih 25 tahun, kurun waktu ini lebih lama dibandingkan pada saat masa kerasulan beliau dengan kurun waktu kurang lebih 23 tahun yaitu ketika Nabi Muhammad SAW diangkat sebagai Rasullullah itu pada saat usia 40 tahun dan berakhir pada usia 63 tahun.

Kita dapat mengambil banyak hikmah dari banyak perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW di bidang berwirausaha. Berikut ini gambaran tentang pribadi Nabi Muhammad SAW sebagai seorang pembisnis terutama yang berkaitan dengan profesi dagang yang beliau tekuni selama ini.

  1. Masa kecil membentuk jiwa wirausaha

Nabi Muhammad SAW ini merupakan figure yang tepat dan dapat dijadikan teladan dalam bisnis dan perilaku ekonomi yang baik. Beliau tidak hanya memberikan tuntunan dan pengarahan tentang bagaimana kegiatan berbisnis ini atau ekonomi dilaksanakan tapi beliau mengalami sendiri jadi seorang pengelola bisnis atau wirausaha. Kewirausahaan dan sifat kewirausahaan itu tidak terjadi begitu saja, perlu hasil dari proses yang begitu panjang, yang dimulai sejak kita masih kecil. Begitu pun dengan Nabi Muhammad SAW, beliaumenjadi seorang pedagang itu tidak langsung masih ada proses yang panjang untuk menuju kewirausahaan dan sifat kewirausahaan itu.

Hal ini sesuai dengan penelitian dari Collin don murst, Ia mengatakan bahwa aktivitas kewirausahaan adalah aktivitas yang berpola atau sudah berpola dari pengalaman-pengalaman sejak kecil. Penelitian ini diakui oleh para pelaku atau guru lidership yang sepakat apa yang terjadi pada tahun-tahun pertama kehidupan kita itu akan membuat perbedaan yang berarti dalam periode berikutnya. Menurut mereka, pengalaman masa kecil bisa mempengaruhi kesuksesan dan kegagalan seseorang. Pengalaman masa kecil dapat menimbulkan dorongan, daya kritis, kemauan mencoba, disiplin, dan sebagainya yang akan membantu seorang untuk mengembangkan rasa percaya diri serta keinginan berprestasi. Kaitannya dengan konteks ini terhadap Nabi Muhammad SAW, yang kita tau dalam sejarah atau dalam riwayat kehidupan dari Nabi Muhammad SAW kita mengetahui semua, bahwa ketika beliau ini  saat kecilnya mengalami pengalaman yang pahit, dengan terlahir sebagai anak yatim. Jadi, Nabi Muhammad SAW sejak sebelum lahir atau sejak lahir itu sudah tidak memiliki seorang ayah bernama Abdullah bin Abu Muthalib. Padahal figure seorang ayah itu penting untuk masa pertumbuhan anak. Lalu meninggalnya ibu dan kakeknya. Disini Allah menguji atau Allah sedang membimbing/mendidik Nabi Muhammad SAW lewat pengalaman hidupnya. Namun Nabi Muhammad SAW tetap optimis menjalani kehidupan dengan berdagang bersama pamannya.

Ada riwayat yang memeberikan informasi kepada kita, dulu ketika Nabi Muhammad SAW berbincang dengan para sahabat. Nabi Muhammad SAW pernah berkata kepada sahabat-sahabatnya “semua Nabi pernah mengembala ternak”. Kemudian para sahabat tersebut bertanya, “bagaimana dengan anda ya Rasulullah?”. Nabi Muhammad SAW menjawab, “Allah tidak mengutus seorang Nabi melainkan dia itu pernah mengembala ternak”. Sahabat kemudian bertanya lagi, “anda sendiri bagaimana ya Rasulullah?”. Beliau menjawab, “aku dulu pengembala kambing penduduk mekkah dengan upah beberapa kirot (upah/gaji dalam bentuk dinar/dirham)” – sohih bukhari no.2262

            Aktivitas mengembala kambing memiliki sebuah pembelajaran bagi rasulullah dan suatu pekerjaan yang memelukan keahlian leadership dan manajemen yang baik. Bayangkan, ketika kita mengembalakan kambing kemudian kita tidak memiliki rasa tanggung jawab terhadap apa yang kita punya yaitu mengembala kambing, maka kambing kita akan masuk ke kebun orang lain dan merusak kebun tersebut atau kambing tersebut akan dicuri atau keracunan memakan tanaman yang disemprotkan bahan kimia. oleh karena itu, dibutuhkannya sikap leadership dan manajemen yang baik agar dapat mengendalikan hewan ternaknya agar tidak tersesat, dan melindungi hewan ternaknya dari berbagai gangguan seperti hewan pemangsa dan pencuri. Ini semua merupakan bentuk fungsi kepemimpinan dan manajemen. Latar belakang inilah yang Allah gariskan kepada calon Rasul yang akan mengemban risalah kenabian dan memimpin umatnya.

            latar belakang masa kecil Nabi Muhammad SAW sangat berpengaruh bagi beliau dalam berwirausaha. Latar belakang ini pula yang membuat beliau menjadi pemimpin yang ideal dan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap orang-orang yang kurang beruntung seperti tadi beliau sudah merasakan sendiri menjadi anak yatim piatu.

  1. Perjalanan dagang Rasulullah SAW

Kita mengetahui ketika usia Nabi Muhammad SAW delapan tahun bersama dengan pamannya. Beliau sudah bekerja mengembala ternak dari penduduk Mekkah, disini karir bisnis Nabi Muhammad SAW dimulai ketika beliau ikut dengan pamannnya. Pamannya seorang pedagang, bersama Nabi Muhammad SAW, mereka berdagang ke negeri Syiria. Waktu itu, beliau berusia 12 tahun, sejak itulah beliau melakukan kerja magang  yang berguna kelak saat beliau membuka bisnis sendiri. Kemudian menjelang usia remaja, 17 tahun, beliau memutuskan perdagangan sebagai karirnya. Beliau menyadari bahwa pamannya, Abu Thalib, bukanlah orang yang kaya namun memiliki beban keluarga yang cukup besar. Oleh karena itu, Nabi Muhammad SAW muda berfikir untuk ikut meringankan beban pamannya dengan berdagang. Agaknya profesi berdagang ini sudah dimulai lebih awal daripada yang kita kenal atau kita tau secara umum, dengan modal dari Khadijah. Ketika merintis karir tersebut beliau memulai dengan berdagang kecil-kecilan di kota Mekkah. Nabi Muhammad SAW pun menjadi seorang pembisnis diawali dengan membeli barang dari satu pasar dan menjualnya ke orang lain (menjadi reseller). Kemudian beliau menerima modal dari para investor dan para janda kaya, anak-anak yatim yang tidak sanggup menjalankan sendiri dana mereka, dan menyambut baik seseorang yang jujur menjalankan bisnis dengan uang yang mereka miliki dengan kerja sama mudarabah. Mudarabah adalah akad kerjasama suatu usaha antara dua pihak yang mana pihak pertama menyediakan modal seluruhnya sedangkan pihak kedua bertindak selaku pengelola, dan keuntungan usaha dibagi diantar mereka sesuai dengan yang dituangkan dalam kontrak/ perjanjian.

Dengan demikian, terbukalah bagi Nabi Muhammad SAW untuk membuka bisnis dengan menjalankan modal orang lain baik itu dengan upah atau system bagi hasil. Dalam menjalankan bisnisnya tersebut, beliau memperkaya dirinya dengan kejujuran,keteguhan menempatkan janji, dan sifat-sifat mulia lainnya. Ketika Rasulullah melakukannya dengan jujur,memegang janji dan sifat baik lainnya akibatnya penduduk Mekkah mengenal Nabi Muhammad SAW sebagai orang yang terpercaya dalam hal yang ia dagang. Maka diberilah gelar kepada Nabi Muhammad SAW sebagai Al-Amin, orang yang terpercaya. Para pemilik modal percaya membuka kemitraan dengan Nabi Muhammad SAW. Salah seorang pemilik modal tersebut ialah Khadijah yang menawarkan kesepakatan mudarabah. Khadijah bertindak sebagai pemodal sementara Nabi Muhammad SAW sebagai pengelola. Lalu mereka menikah dan menjalankan bisnis bersama. Nabi Muhammad SAW mengajarkan kepada kita ketika berwirausaha/berdagang, itu mengajarkan agar tidak curang saat penimbangan barang, tidak menyembunyikan cacat barang yang kita jual, tidak mengandung riba, dan sifat-sifat buruk lainnya. Hal-hal ini tentu tidak dapat dijelaskan oleh orang yang tidak terjun langsung secara praktis dan merasakan dinamika perdagangan dan karakteristik pelaku bisnis pada waktu itu, apalagi beliau telah membuktikan bahwa kesuksesan dalam bisnis dapat dicapai tanpa menggunakan cara-cara bisnis yang tidak baik/dilarang.

Begitupun dengan para sahabat Rasulullah, yang kita kenal yaitu Ustman bin Afan, memiliki kekayaan seperti kebun kurma di Mekkah. Bagaimana sahabat-sahabat Rasul ini berbisnis sampai kekayaannya masih ada dan bermanfaat ?

Ada dua kisah yang dilakukan Ustman bin Afan, kisah yang kita kenal tentang beliau yaitu ketika di Mekkah ada seorang dari Yahudi memonopoli air sumur yang dia miliki ketika para penduduk Mekkah sedang mengalami kekeringan dengan harga yang mahal. Karena penduduk Mekkah membutuhkan air maka semuanya beli kepada orang Yahudi tersebut. Dengan itu, masyarakat Mekkah mengharapkan ada dari kalangan mereka yang dapat memiliki sumber air.  Ustman bin Afan merasa ingin sekali memiliki sumur tersebut. Ustman menemui orang Yahudi tersebut. Ustman bin Afan berkata, “olehkah sumur ini saya beli?”, orang Yahudi menjawab, “kalau sumur ini dibeli maka pendapatan saya darimana?”. Itu penolakan dari seorang Yahudi, namun Ustman bin Afan cerdik dengan cara menawar lagi, Ustman bin Afan berkata,”kalau begitu boleh tidak saya beli setengah dari sumur tersebut? Hari ini saya akan mencoba menjual air sumur ini, besoknya engkau yang jual”. Orang yahudi tersebut mulai tertarik dengan tawaran Ustman bin Afan, orang yahudi berkata, “oh kalau begitu saya masih memiliki sumur ini? dan saya masih mendapatkan uang dari anda”. Maka keduanya sepakat dengan tawar-menawar tadi. Pada saat itu Ustman bin Afan meminta para penduduk Mekkah untuk mengambil air itu secara gratis. Ustman bin Afan berkata, “ambillah air untuk kebutuhan cadangan dua hari kedepan”. Karena penduduk Mekkah sudah tersedia kebutuhan airnya, keesokkan harinya yaitu saatnya bagi orang yahudi untuk berjualan tapi pembelinya sepi. Maka mulai frustasilah orang yahudi tersebut. Pada akhirnya orang yahudi tersebut menjual lagi setengah sumur tersebut dengan harga murah kepada Ustman bin Afan karena tidak adanya pembeli. Dari kecerdikan Ustman bin Afan kita bisa mengambil pelajaran dari beliau.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *