“Muslimah Milenial” Oleh Teh Urfa Qurrota ‘Ainy

NOTULENSI KAJIAN ONLINE (K-ON)

“Muslimah Milenial”

Sabtu, 14 September 2019

Oleh Teh Urfa Qurrota ‘Ainy

Lima Peran Muslimah di Era Milenial

 

Assalamualaikum Wr. Wb.

 

Puji syukur kepada Allah swt, atas perkenan-Nyalah hati kita tergerak untuk mengklik ajakan bergabung di diskusi WhatsApp malam ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada influencer terbaik dan terfavorit sepanjang masa, yaitu Rasulullah Muhammad saw.

Perkenalkan, nama saya Urfa, S.Psi. Saya adalah seorang muslimah biasa, yang sehari-harinya beraktivitas sebagai istri, ibu rumah tangga, penulis buku, dan pembelajar di bidang psikologi dan Islam. Salam hangat   

Insya Allah, sesuai tema dari panitia, malam ini kita akan berdiskusi terkait peran muslimah di era milenial. Sebuah tema yang menarik, sekaligus berat. Seolah-olah tidak akan cukup dibahas dalam waktu yang singkat, ditambah lagi metode diskusi online memiliki banyak keterbatasan. Akan tetapi, insya Allah apa yang disampaikan ini kiranya bisa setidaknya membangkitkan kesadaran kita, tentang betapa besar dan mulianya peran muslimah di era kini.

Terima kasih kepada panitia, moderator, dan terkhusus kepada para peserta yang bersedia meluangkan waktu untuk belajar bersama. Saya berdoa, semoga niat dan kesertaan kita dimention oleh para malaikat saat mereka berbincang dengan Allah swt. Kelak, semoga juga di hari akhir Allah akan me-mention kita, mengumumkan nama-nama kita di hadapan miliaran manusia dan jin, sebagai kaum yang senang menimba ilmu, senang belajar, dan senang bersilaturahim. Lengkap dengan bukti ‘screenshot’ percakapan dan tanya jawab yang akan kita lakukan malam ini. Sungguh Allah sebaik-baik Penilai dan sebaik-baik tempat kembali.

Sebelumnya, saya memohon maaf karena tidak menyediakan visual yang menarik untuk materi ini. Mudah-mudahan materi ini tetap bisa diterima dan dipahami (well, karena di era sekarang, orang lebih suka tulisan dengan visual yang ciamik).

Baik, sebelum masuk pada materi utama, saya ingin menyampaikan sebuah prolog.

P R O L O G

Perubahan zaman adalah hal yang tidak terelakkan. Perubahan itu menimbulkan konsekuensi, berubah pula ukuran manusia dalam menilai kehebatan manusia lainnya. Dulu di zaman prasejarah, manusia yang hebat adalah yang pandai berburu, punya kekuatan fisik. Lalu beranjak lebih jauh, standarnya berubah. Di zaman agraria, orang yang hebat adalah yang menguasai banyak tanah dan ladang. Tak heran, orang yang selalu haus kuasa berubah menjadi penjajah. Tapi itu pun tidak lama. Masuk era industri, standar itu berubah pula. Orang dinilai berdasarkan uang yang dihasilkannya, rumah yang ditinggalinya, mobil yang dikendarainya, jabatan pekerjaan yang diembannya, dan barang-barang yang dimilikinya (Possession). Kini? Banyak yang menyebut, kita memasuki era industri 4.0. Industri yang melibatkan data dan teknologi internet. Di masa kini, orang tidak lagi dinilai berdasarkan fisik, tanah/ladang, ataupun benda yang dimilikinya, di era sekarang, manusia

 

dinilai berdasarkan ide pikirannya. Kita melihat, saat ini data lebih berharga daripada emas, harta, tanah. Ini pula yang menandai atau menjadi ciri khas era milenial. Era Milenial adalah era ide dan pikiran. Era kreativitas. Pertarungan kita bukan lagi tentang fisik, tapi tentang ide.

Kita tidak bisa menutup mata pada perubahan tersebut. Perubahan tersebut menyebabkan perubahan pada perilaku manusia, cara berpikir, cara menilai, dan perubahan perilaku lainnya.

Coba kita evaluasi perubahan diri kita sendiri. Bagaimana kita sangat tergantung dengan ponsel, bagaimana kita berinteraksi lewat media sosial, dsb.

Di sisi lain, sebagai muslimah, kita punya kepercayaan bahwa kita hidup bukan untuk sekadar hidup. Kita hidup untuk menjadi khalifah di muka Bumi. Kita punya misi untuk menjadi bermanfaat bagi seluas-luasnya alam semesta.

Lalu, dengan perubahan-perubahan itu, bagaimana kita akan berperan? Apa yang harus kita perbuat untuk menyambut perubahan itu? Apakah perubahan itu bisa kita manfaatkan untuk meraih kemuliaan hidup di dunia dan akhirat? Atau justru perubahan itu bikin kita tersesat?

 

 

F A K T A

  1. Muslim milenial jumlahnya 29% dr populasi Indonesia saat ini (Muslim,.lahir pada kisaran 1980-2000)
  2. Milenial identik dengan media sosial

 

 

M A S A L A H

Dengan jumlah yang banyak, bisa menjadi berkah, atau bisa jadi bencana populasi Tergantung kualitas SDM.

Tantangan: paham individualisme, paham sekularisme, persaingan, pendidikan yang terlalu oportunis, degradasi moral

 

 

S O L U S I

Menguatkan kualitas SDM muslim milenial. Menguatkan peran muslim Milenial di berbagai bidang.

 

 

Apa saja peran muslim, terutama muslimah, di era milenial?

 

 

Peran Muslimah di era milenial

 

  1. Pembelajar. Muslimah harus punya wawasan mendalam sesuai bidang yg dimampunya. Kembangkan pengetahuan terhadap bidang2 strategis. Tidak ada pembedaan antara laki-laki dan perempuan dalam hal menuntut ilmu. Berhentilah belajar hanya ketika napas sudah terhenti. Pelajarilah ilmu agama dan ilmu ‘dunia’ secara bersamaan. Lalu, manfaatkan ilmu itu untuk seluas-luas kepentingan. Manfaatkan internet dan kemudahan lainnya untuk mengasah diri sendiri. Jangan hanya membuka media sosial, cobalah kursus-kursus gratis di internet. Tontonlah video-video ilmu

Beberapa situs penyedia online courses (ada yg gratis juga kok, ada sertifikatnya pula)

-Alison.com

-Coursera

-Udemy

-Edx

 

  1. Penebar nilai kebaikan, Muslimah tidak hanya hidup untuk dirinya sendiri. Ilmu yang dipelajari harus berdampak pada kehidupan orang lain. Harus punya kepedulian pada hidup orang lain. Harus punya influence. Tidak perlu jadi influencer di Instagram. Bumi Allah ini luas. Di mana pun kita berada, kita bisa memberi pengaruh. Suatu perbuatan yang terlihat kecil, dampaknya bisa jadi besar dan berlipat ganda. Jangan remehkan perbuatan baik sekecil apapun. Manfaat media sosial untuk menyebarkan ide positif, ajakan kebaikan, dan cerita-cerita yang

 

  1. Pencipta, bukan hanya penikmat. Harus membuat arus, bukan sekadar ikut arus. Muslimah tdk jadi ‘budak’. Bucin (budak cinta), buol (budak online shop), bushop (budak shopee ), bufas (budak fashion). Artinya, muslimah bukan sebagai komoditas yg mudah diombang- ambing oleh tren semata. Hijab tdk sebagai tren semata, karena tren akan berubah, yg punya kuasa, dia yg membuat arus. Harus punya jati diri. Harus punya ketegasan. Mewarnai, bukan sekadar diwarnai. Arus informasi di era milenial sangat mungkin menenggelamkan kita, bahkan mengombang-ambing kita. Karena itu, seorang muslimah harus punya mental ‘pencipta’, bukan mental pasif

 

  1. Pendidik. Kelak seorang perempuan akan menjadi istri dan ibu. Peran perempuan di keluarga sangat sentral karena akan membesarkan anak-anak. Unit terkecil di masyarakat adalah keluarga. Banyak kehancuran dimulai dari kehancuran keluarga. Perempuan disebut sebagai tiang suatu negara. Ummi, dan ummat. Keduanya berasal dari akar kata yg sama. Artinya, seorang ibu menjadi benteng paling utama dalam kejayaan suatu

 

Banyak penelitian mengemukakan bahwa di era milenial, orang-orang semakin tidak tertarik untuk berkeluarga. Hubungan lawan jenis cuma sekadar pemuas hasrat. Padahal, dengan berkeluarga, kita sedang berkontribusi pada peradaban. Ketidaktertarikan kaum muda di negara Jepang, Amerika, Korea, untuk membangun keluarga, untuk memiliki anak, dapat berimbas pada hilangnya generasi mereka.

 

5.                  Muslimah sebagai duta Islam

Menampilkan islam yg sebenarnya. Wajah Islam yang teduh, ramah, dan sejuk. Tidak dimungkiri, muslimah di zaman milenial sering disoroti. Tindak tanduknya menjadi buah bibir. Kesalahannya menjadi bahan gunjingan. Sedikit saja ada kekurangan, langsung diviralkan. Lalu dibumbui kalimat skeptis dan benci pada Islam secara umum. Meskipun kesalahan itu diperbuat hanya oleh oknum.

 

Namun, tidak ada salahnya muslimah lebih mawas diri. Bagaimana pun, orang punya ekspektasi lebih ketika melihat hijab yang kita kenakan. Untuk itu, mari menampilkan wajah Islam yang ramah, sejuk, teduh, dan menyenangkan. Berikut beberapa poin yang sering jadi sorotan:

  1. Kebersihan diri dan lingkungan. Muslimah tidak
  2. Disiplin
  3. Ramah
  4. Hormat/Sopan
  5. Menjaga iffah (kehormatan diri)

 

 

 

5 Kekuatan Muslimah yang Harus dimiliki, terutama menghadapi guyuran informasi, guyuran media sosial

  1. Kekuatan ruhiyah

Sadar bahwa hidup ini adalah untuk beribadah kepada Allah semata. Selalu mencharge diri dengan ibadah harian.

  1. Kekuatan kepribadian

Mengenal diri. Bisa memetakan bakat, potensi, visi dan misi hidup. Agar tidak lemah menghadapi berbagai pengaruh media sosial.

  1. Kekuatan kata-kata

Mempengaruhi orang di media sosial adalah tentang berkata-kata dan bercerita. Karena itu, kemampuan menyusun kata-kata diperlukan agar media sosial tidak hanya diisi festival pameran kemewahan.

Bagaimana pun, kini orang-orang lebih sering buka HP, scroll Instagram. Maka dakwah yang efektif adalah yang mengikuti perkembangan zaman.

  1. Kekuatan teladan

Mengajak orang pada kebaikan dengan contoh dan perilaku nyata

  1. Kekuatan fisik

Menjadi ibu peradaban butuh kesehatan fisik, kebugaran organ-organ tubuh.

 

 

E P I L O G

Setiap zaman memiliki tantangan yang beragam. Namun, kita tidak perlu khawatir, tidak perlu bingung, tidak perlu merasa menderita. Allah Mahatahu apa yang akan kita hadapi. Karena itu, dikirimkannya surat-surat cinta berisi beragam pedoman, kisah, hingga aturan, agar manusia bisa selamat dan berhasil di zaman apapun. Ya, sejatinya Alquran akan selalu kompatibel dengan

 

perubahan zaman. Jadi, ketika langkah mulai goyah, pikiran mulai tersesat, ingat bahwa ada Alquran. Ada sebuah manual book yang Allah berikan kepada kita.

 

Muslimah bukanlah sosok yang minor dan tidak diperhitungkan. Muslimah sesungguhnya sangat dimuliakan dan ditinggikan dalam Islam. Ada banyak peran penting yang bisa dilakoni, sesuai bakat dan kemampuan masing-masing. Semuanya bukan untuk menyaingi laki-laki, semuanya bukan untuk menunjukkan kesombongan di hadapan laki-laki, melainkan untuk kemuliaan di sisi Allah swt semata. Karena di hadapan Allah, sejatinya laki-laki dan perempuan punya kesempatan yang sama untuk menjadi mulia, untuk menjadi makhluk yang dicintai-Nya.

 

QnA

  1. Bagaimana cara memiliki kekuatan kata-kata dan memaksimalkan kekuatan kata-kata ?

 

Memiliki kekuatan kata-kata

Tahap pertamanya adalah : milikilah ide.

Berarti otak kita tidak boleh kosong.

Bagaimana supaya otak terisi ?

Gunakan otak kita untuk membaca, mengamati, berkontemplasi, berdiskusi.

Seraplah ide dari alam semesta. Lalu, tuangkan dalam bentuk tulisan.

Jika terbiasa melakukan kegiatan otak seperti itu, kita akan lebih mudah untuk menuangkan kata-kata.

Jangan lupa niat yang lurus. Minta tolong pada Allah. Supaya kata-katanya engga Cuma indah didengar, tapi juga punya energi, punya kekuatan. Buat apa ? buat menggerakkan.

 

  1. Gimana cara memanfaatkan sosial media agar dapat dipergunakan untuk hal-hal

yang positif ?

 

Note: Ini sebetulnya tidak wajib juga. Karena tidak semua orang suka bermedia sosial dan itu tidak masalah. Tidak selalu harus jadi seorang influencer. Tidak juga harus punya followers banyak.

Namun, jika mau memanfaatkannya, mulailah dengan melakukan edukasi tentang hal yang kamu tahu. Kamu ngerti soal investasi saham, sharinglah ilmu mu pada temenmu di sosmed.

Kamu ngerti soal menggambar, share lah pengetahuanmu itu biar orang yg lagi belajar bisa ikuti jejakmu. Mulai dari hal2 yg dekat saja.

Tips: perhatikan isu2 kekinian. Kamu bisa mengemukakan pendapat atau pengetahuanmu tentang isu yg lagi tren, karena bisa jadi itu sedang dibutuhkan banyak orang

 

  1. Teh, kan banyak tuh peran yang bisa diberikan muslimah di era ini, tapi aku masih belum yakin sama passion dan kekuatan aku tuh ada dimana. Jadi aku belum tahu bisa memajukan peradaban via cara apa. Gimana ya teh baiknya ?

 

Banyak tools yg bisa digunakan untuk memetakan bakat diri sendiri. Ada talents mapping -yg berbasis genetika: STIFIn -yg berbasis bakat dan minat: tes multiple intelligence nya Howard Gardner.

 

Kebingungan yg kamu alami adalah pertanda bagus. Itu tandanya kamu sudah memulai. Selanjutnya, lanjutkan saja. Jalani.

 

Kadang, pengalaman yang akan memberi jalan.

 

“Memajukan peradaban” tidak melulu tentang perubahan2 besar. Itu konsep yg berat yg harus kita pecah menjadi kepingan2 kecil agar lebih mudah kita resapi.

 

Maksudku, mulai saja dgn memperbaiki diri sendiri dulu. Dari hal yg kecil. Misalnya dgn disiplin, hidup bersih dan rapi, tidak merepotkan orang tua, mengerjakan tugas kuliah dgn maksimal, mengikuti organisasi dgn optimal.

 

  1. Teh saya belum terbiasa dgn dunia kampus, alhamdulillah saya diterima dijurusan teknik, namun disana mayoritas ikhwan. Bagaimana ya teh cara berinteraksi yang baik supaya saya bisa diterima di lingkungan teman teman umum, dan saya masih bisa menjaga jati diri saya sbg muslimah? karena rasanya saya masih canggung dan membentengi diri apa tidk apa apa teh kalau sperti itu?

 

Bersikap natural aja. Misalnya, tdk perlu jadi dibuat2 demi diterima lingkungan. Tapi tdk perlu jg jadi terlalu khawatir sampai menutup diri. Saya yakin teman2 laki2 itu juga bisa menghargai kamu dan tdk akan mencederai jati dirimu sbg muslimah.

Dulu saya jg mengalami. Waktu SMP, karena di sekolah berasrama dan kelas laki2 dan perempuan dipisah, jadi agak canggung dgn lawan jenis.

Tapi di SMA, kelas digabung dgn lawan jenis. Sempat kikuk, tapi lama2 terbiasa juga. Bergaul seperlunya saja. Misalnya utk bikin tugas, utk organisasi, dsb. Yg saya rasakan, selama kita menjaga hijab, mereka jg berhati2 utk bergaul dgn kita.Profesional aja. Misalnya kalau ada kerja kelompok dgn laki2, ya profesional aja, mengerjakan sesuai tugas. Tapi tetap tegas pada aturan soal batas waktu, batas utk tidak bersentuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *