Tanya dan harap Oleh: Shafira Rizka Amani, Pendidikan Biologi 2016

Di antara rintik air hujan yang turun membasahi, sudikah Engkau mengangkat harap hamba yang sulit dibahasai?

 

Kala itu, dada bergemuruh. Diam. Lalu kembali menatap layar kaca mobile phone dengan perasaan kalut. Aku ini, kenapa?

 

Awalnya ku anggap seperti angin lalu dan meneruskan aktivitas seperti biasa tapi, kenapa gemuruh ini tak kunjung reda? Aku ini, suka?

 

Mencoba hening, kuambil waktu sejenak. Barangkali ada yang tidak beres dan harus diperbaiki nampaknya. Kembali mengingat rekam jejak selang dua hari yang lalu.

 

Memang, ada apa?

Scroll, scroll. Walah, perihal ini agaknya harus didiskusikan kepada Rabb, Maha Pemegang Hati hambanya.

 

Doa-ikhtiar-doa. Salah dua ikhtiarnya adalah dengan menghapus pesan yang lalu D-A-N tidak mencari tahu kabarnya secara sengaja. Sebagian orang ada yang beranggapan, “kenapa lebay amat sih?”;

“yaelah biasa aja bambang!”;“nikmatin aja alurnya! Mumpung doi juga ngasih sinyal”.

 

Hei.

Bagian mana yang harus di-“nikmatin” aja?

Bales-balesan pesan dengan senyum disertai degup jantung tak karuan? Atau scrolling beranda doi dengan tak jemu jemu sampai larut? Atau atau atau, nikmatin aja kalau tugas kita sekarang jagain jodoh orang?

 

Hei.

Berapa detik-menit-jam-hari-bulan-tahun yang jadinya sia-sia untuk sesuatu yang maya? Sudahlah, perihal ini tak perlu dikhawatirkan. Memang, sesekali hati ini penuh dengan bunga-bunga. Bunga mawar, bunga melati, bunga angsana, juga bunga bangkai misalnya.

 

Memang, sesekali hati ini kerap kali merasa teduh karena melihat kebaikannya. Iya, iya, memang. Tapi, ada baiknya perihal rasa ini didiskusikan terlebih dahulu kepada Sang Pemegang Hati bukan?

 

Agaknya, minta dijaga dengan baik tingkah dan hati ini. Supaya tidak buru-buru bersemi padahal belum masuk musimnya. Juga, agar terjaga dan selamat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *