“Warga Net Jadi Pemimpin?” Oleh Rexzi Adi Prabowo

Selamat malam kawan-kawan semuanya. Perkenalkan, Saya Rexzi Adi Prabowo dari PGSD FIP UPI. Dan saat ini, Saya sedang menerima mandataris kehidupan sebagai Presiden BEM REMA UPI Tahun 2019.

Sebelumnya, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada UKM LDK UKDM UPI yang telah memberikan kesempatan kepada Saya, sehingga saya bisa berbagi di kegiatan yang sangat keren ini.

Topik yang akan kita bahas kali ini sungguh sangat menarik. Tidak lain dan tidak bukan, kita akan membahas mengenai topik Kepemimpinan. Topik yang sangat amat penting, dimana hari ini bangsa kita sedang dilanda krisis kepemimpinan yang menyebabkan timbulnya berbagai macam permasalahan yang besar.

Sebelum kita mulai, Saya ingin menyampaikan bahwa Saya bukanlah siapa-siapa. Belum menjadi pemimpin yang sebenar-benarnya pemimpin. Saya pun juga ingin sekali belajar dari kawan-kawan semua. Jadi, diharapkan kita bisa saling berbagi dan saling menginspirasi ya. Langsung saja, kita mulai pembahasan kita J

Saya mulai dari sebuah kisah seorang The Real Leader, yang saya kutip dari buku Seni Tinggal Di Bumi

Hatinya berguncang hebat saat dirinya tau Ia dipilih sebagai pemimpin negara. Bukan berbahagia lalu mengadakan pesta, justru ia takut dengan amanah besar yang kini menggantung di pundaknya.

Ia dipilih bukan karena Ia mencalonkan diri. Apalagi main belakang dengan pemimpin sebelumnya atau orang-orang berpengaruh negara. Ia dipilih atas integritas, profesionalisme, dan kemampuannya yang ia buktikan selama hidup. Bukan koar-koar narsis di atas poster atau Megatron di tengah kota.

Pengangkatannya sebagai pemimpin sederhana saja, tanpa surat suara, kampanye, apalagi main politik uang.

Ia sosok pemimpin yang selalu meminta dan mendengarkan pendapat dari berbagai macam kalangan. Dari golongan tua atas kebijaksanaannya, dari golongan muda atas ide cemerlang nya, bahkan ia tak segan-segan meminta pendapat dari seorang wanita. “boleh jadi pendapatnya lebih baik dan benar”, ungkapnya.

Wilayah kekuasaannya begitu luas, hingga sebagian Eropa dan Afrika. Tetapi kesederhanaannya melebihi kepala dusun tulus di pedalaman. Ialah pemimpin yang bersumpah saat 1 tahun kelabu menimpa rakyatnya. “Aku bersumpah tidak akan merasakan lezatnya Samin, Susu, dan Daging sampai rakyatku merasakannya”.

Ia hanya makan minyak sampai perutnya berbunyi keroncongan. Begitu keras ia memperlakukan dirinya tetapi begitu lembut ia memperlakukan rakyatnya.

Ialah pemimpin yang tidak terima diberi bagian daging yang paling enak pada sebuah jamuan makan. Ia kembalikan semangkuk besar daging tersebut lalu memakan roti dengan olesan minyak.

Bukankah wajar saja jika seorang pemimpin mendapatkan bagian terbaik? Ah lupa, Ia kan pemimpin sejati. Ialah sosok penyayang dan berhati lembut. Tiap malam berkeliling kota, memantau kondisi rakyatnya. Saat Ia tau ada yang kelaparan, tak sungkan Ia panggul sendiri sekarung tepung dan bahan makanan lainnya dari kas perbendaharaan negara untuk diberikan kepada rakyat yang sedang kelaparan. Ialah sosok pemimpin yang selalu mengintrospeksi dirinya secara ketat. Siapakah pemimpin sejati itu? Ialah Umar Bin Khattab. Sahabat Rasulullah yang menjabat sebagai Khalifah Kedua Apa yang bisa kita dapatkan dari kisah Umar Bin Khattab di atas? Hikmah yang bisa kita ambil dari kisah diatas, adalah berkaitan dengan konsep “The Leader Of Leader”. Pemimpinnya pemimpin. Sebuah konsep kepemimpinan yang banyak dilupakan oleh orang-orang, termasuk di Indonesia :). Hari ini, seakan kepemimpinan hanya diibaratkan sebagai suatu jabatan semata. Suatu posisi strategis yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi. Padahal, “Kepemimpinan itu tindakan, bukan jabatan”. Kita bisa melihat tindakan-tindakan apa saja yang Umar Bin Khattab lakukan. Jabatan hanya sebuah nama, namun tindakannya merepresentasikan dirinya sebagai seorang pemimpin. Turun langsung kepada rakyat untuk mendengar serta mengetahui kondisi rakyat, enggan untuk memanfaatkan secara berlebihan fasilitas negara yang padahal merupakan haknya, dan memberikan pelayanan penuh kepada rakyatnya. Ia sadar betul dengan amanah kepemimpinan yang ia pikul. Yang pastinya, akan dipertanggungjawabkan kepada Allah.

Lalu pertanyaannya, bagaimana kondisi kepemimpinan bangsa kita hari ini? :) Tak usah saya jelaskan secara gamblang, teman-teman sudah bisa menilai sendiri. Dan masalahnya teman-teman semua, hal tersebut diperparah dengan adanya miskonsepsi yang ada di masyarakat hari ini. Dimana, kepemimpinan hanya diperuntukkan untuk mereka yang mempunyai jabatan saja. Miskonsepsi ini tidak remeh! Jika dibiarkan, permasalahan besar akan terjadi. Lebih daripada itu, bahkan kehancuran akan melanda bangsa ini. Ini dikarenakan, sebagian besar masyarakat melimpahkan sepenuhnya tanggung jawab memperbaiki bangsa kepada pemerintah sebagai pimpinan bangsa. Hanya sedikit orang-orang yang sadar bahwa diri mereka sendiri pula lah para pemimpin yang diharapkan bangsa. Padahal, Rasulullah telah menyampaikan dalam hadits riwayat Muslim. Dari Ibnu Umar RA dari Nabi SAW sesunggguhnya bersabda: sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara adalah pemimpin atas rakyatnya dan akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin atas anggota keluarganya dan akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang isteri adalah pemimpin atas rumah tangga dan anak-anaknya dan akan ditanya perihal tanggungjawabnya. Seorang pembantu rumah tangga adalah bertugas memelihara barang milik majikannya dan akan ditanya atas pertanggung jawabannya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya atas pertanggungjawabannya (HR. Muslim).

Ya, kita semua adalah pemimpin. Minimalnya, pemimpin bagi diri kita sendiri. Driver kehidupan diri sendiri, Sutradara dari petualangan kehidupan diri sendiri. Suka atau tidak suka, setiap orang yang hidup pasti terlibat dalam proses kepemimpinan. Paling tidak, kita dituntut untuk memimpin diri sendiri agar bisa bertahan! Maka, mari kita sadari bersama bahwa kita semua adalah seorang pemimpin! Caranya sederhana. Dengan membangun pondasi dasar kepemimpinan yang sudah Rasulullah lakukan. Yaitu, dengan menempa diri kita sendiri agar memiliki sifat Sidiq, Amanah, Fathanah, Tabligh.

  1. Sidiq (Kejujuran)
  2. Amanah (Menjalankan kepercayaan)
  3. Tabligh (Menyampaikan Kebenaran dan berani mengungkap keburukan)
  4. Fathanah (cerdas)

Dengan melatih diri kita dengan 4 sifat diatas, kita sama dengan melatih diri kita sebagai seorang pemimpin. The Real Leader

QnA

  1. Bagaimana sikap kita sebagai rakyat yang baik terhadap pemimpin yang sudah tidak dipercayai lagi oleh rakyatnya?
  2. Bagaimana cara kita melatih diri atau membiasakan diri dalam menerapkan 4 sifat pemimpin yang telah disebutkan ?
  3. Aku berkata “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?” Beliau bersabda, “Dengarlah dan taat kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan taat kepada mereka”. (HR. Muslim No. 1847. Lihat penjelasan hadist ini dalam Muqorotul Mafatih Syarh Misykah Al Mashobih, 15/343, Maktabah Syamilah)

 

Teman saya berkata, ia dihadapkan pada kondisi pemimpin yang dzalim dan sudah jelas salah, dan di sisi lain ia memandang hadist diatas sebagai kepercayaannya, bagaimana pandangan bang rexzi tentang kondisi tersebut? Tolong jelaskan secara rinci.

  1. Berkaitan dengan sikap kita kepada pemimpin yang kurang baik Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman” (HR. Muslim)

 

Dari hadits tersebut, bisa kita simpulkan bahwa jika kita melihat suatu kemungkaran yang dilakukan oleh pemimpin kita, maka kita wajib untuk mengubahnya. Tentunya, menasehati dan mengingatkan pemimpin atas kesalahan, kelalaian, dan kekhilafan merupakan bentuk rasa cinta, kasih sayang, dan taatnya kita kepada pemimpin tersebut. Bukan malah membiarkan pemimpin tersebut jatuh kepada jurang kemungkaran. Jadi, sikap yang baik yang bisa kita lakukan adalah tanpa lelah terus mengingatkan pemimpin tersebut agar kembali kepada jalan yang benar. Jika tak kunjung berubah, doakan pemimpin tersebut agar Allah segera memberikan hidayah kepadanya

 

  1. Berkaitan dengan cara melatih diri membiasakan 4 Sifat yang harus dimiliki pemimpin Cara melatih diri untuk menerapkan 4 sifat pemimpin adalah dengan berkomitmen pada diri sendiri. Maksudnya, berkomitmen untuk menjauhi perkara-perkara yang akan merusak dan menjauhkan diri sendiri pada 4 sifat tersebut sekaligus secara konsisten melakukan ibadah-ibadah yang meningkatkan diri kita pada 4 sifat tersebut. Misal, bertingkah laku sesuai dengan ucapan (Sidiq), bertanggung jawab pada tugas yang telah diberikan sesulit apapun kondisinya (amanah), menyampaikan pesan dengan baik (tabligh), dan senantiasa menjadi seorang pembelajar (Fathanah) Kuncinya, kita berkomitmen untuk menerapkan sifat-sifat tersebut dalam keseharian kehidupan kita. Hal tersebut dikarenakan, karakter atau sifat itu merupakan suatu hal yang tidak bisa langsung diubah. Butuh waktu. Awalnya pasti sulit, tapi saya yakin lama-lama akan terbiasa

 

  1. Pertanyaan terakhir, berkaitan dengan fenomena yang menjadi perdebatan di kalangan muslim Jika boleh jujur, hal ini pun yang masih saya pertanyakan. Dimana kita memiliki kewajiban untuk mentaati pemimpin kita, namun pemimpin kita dzalim akan amanahnya. Pandangan saya, saya sepakat dengan gambar tersebut. Karena bisa jadi akan terjadi suatu kondisi yang lebih buruk dan lebih parah, ketika kita ingkar walaupun kepada pemimpin yang dzalim. Namun berdasarkan penjelasan Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah, dijelaskan bahwa ketaatan terhadap pemimpin itu dengan syarat selama pemimpin tersebut tidak memerintahkan untuk bermaksiat kepada Allah Ta’ala. Jika mereka memerintahkan hal itu (maksiat), maka tidak ada ketaatan terhadap makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Pencipta. Intinya, jika dihadapkan pada pemimpin yang dzalim, maka pandangan saya tetap taat pada pemimpin tersebut. Namun terus ingatkan beliau dengan cara yang baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *