“WORDS ARE POWER” Oleh Ahmad Wali Radhi

NOTULENSI KAJIAN ONLINE (K-ON)

“WORDS ARE POWER”

Sabtu, 29 Juni 2019

Oleh Ahmad Wali Radhi

            Bismillahirrahmanirrahim..

            Pada malam hari ini kita akan membahas mengenai dakwah bil lisan.

            Berbicara tentang dakwah secara umum, ada beberapa basis fundamental pemahaman yang harus kita pahami sebagai seorang muslim. Jadi di dalam kerangka pengembangan individu kepribadian seorang manusia atau seorang muslim itu bertingkat-tingkat, jadi bisa dikatakan seorang individu itu ketika dia akhirnya sudah memutuskan untuk bersyahadat untuk berikrar bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah illahnya tanpa terkecuali dan juga Muhammad adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka sejak saat itulah dia menjadi seorang muslim maka tugas pertama yang harus disadari, diemban, dan juga harus dilaksanakan oleh orang yang sudah mengikrarkan syahadat adalah bagaimana ia mampu berusaha semaksimal mungkin untuk membentuk sakhsiyah islamiyah dalam diri dia atau kepribadian seorang muslim. Dan ini sudah banyak termaktub, tertulis di dalam literatur hadist ataupun Al Qur’an yang selalu mencirikan bahwa orang-orang mukmin itulah orang-orang seperti ini, orang-orang yang munafik adalah yang seperti ini.

“Panggilan-panggilan untuk kaum-kaum beriman yang lainnya”. Jadi sudah banyak termaktub di dalam Al Qur’an maupun hadist tentang akhlak-akhlak yang harus dimasukkan atau diintegrasikan dalam diri kita sebagai seorang Muslim yang sudah merdeka dan bersyahadat, tetapi sebenarnya tidak berhenti sampai disitu. Fase selanjutnya dalam pengembangan kepribadian seorang manusia atau seorang Muslim itu tidak hanya berhenti pada titik syakhsiyah islamiyah saja, tetapi juga harus berlangsung sampai sadar bahwa dirinya pun wajib untuk membentuk pada dirinya seorang syakhsiyah da’i atau kepribadian seorang da’i karena bagaimanapun kita prinsip dasarnya adalah “Segala sesuatu ada pada da’i”, jadi ketika kita berikrar bahwa kita adalah seorang Muslim maka sudah sadar, konsekuen bahwa seharusnya kita menjadi seorang da’i. “Seorang muslim diwajibkan untuk berdakwah”, berbeda dengan umat-umat Nabi sebelumnya, kita sebagai umat Nabi Muhammad ini punya keistimewaan, risalah kenabian, risalah tauhid itu tidak berhenti ketika Rasulullah wafat. Ketika ia wafat, kita sebagai umatnya dapat yang namanya pengembangan tugas amanah dakwah ini. Jadi, amanah dakwah inilah yang harus bisa menjadi kesadaran kita, basis kita, dan salah satu tujuan hidup kita juga. Kan tujuan hidup kita ini selain beribadah kepada Allah, tetapi juga bagaimana kita bisa membentuk kepribadian diri Islam yang menyeluruh dan integratif, Islam kaffah dalam diri kita, tetapi kita juga bisa menjadi seorang khalifah di muka bumi ini, tetapi khalifah disini adalah menjadi seorang da’i.

Ketika menjadi seorang da’i, bukan hanya menjadi seorang mubaligh, bukan pembicara yang berceramah, siapapun bisa menjadi seorang da’i. Jadi, inilah yang harus menjadi pemahaman Islamiyah.

Lalu yang kedua, setelah kita sadar bahwa kita seorang Muslim yang wajib pula menjadi seorang da’i, punya kesadaran untuk membentuk kepribadian seorang da’i maka ada ciri-cirinya, ketika disebut syakhsiyah, ketika disebutkan kepribadian, maka kepribadian yang seperti apa sih seorang da’i itu ? Dan ini juga banyak disebutkan dalam Al Qur’an maupun hadist. Dalam surat An-Nahl ayat 90 “Dan berdialektikalah, berdebatlah dengan mereka dengan perkataan yang baik” dan surat Yusuf ayat 80 “Apakah ada perkataan yang lebih baik daripada orang yang menyeru kepada Allah, dan dia juga beramal shaleh”, atau di dalam Al Qur’an banyak qaulan-qaulan yang banyak disebutkan. Misalnya ketika berbicara dengan orang tua, kita diberitahu oleh Allah dengan berkata lemah lembut (Qaulan Layyina). Ada juga Qaulan Balighah, perkataan yang disampaikan, yang jelas dan clear ketika berinteraksi, berdiskusi dengan teman sebaya kita. Atau juga Qaulan Syadida, perkataan yang keras, ini digunakan ketika kita banyak berinteraksi dengan orang-orang yang ngomong keras. Ada Qaulan Ma’rufah, dan sebagainya kalau tidak salah ada delapan qaul di dalam Al Qur’an.

Sebenarnya delapan perkataan itu menjadi kata kunci bagi para da’i untuk bisa berdakwah dengan lisan secara efektif dan juga efisien. Hal yang ingin disampaikan, yang utama disini adalah ketika kita akhirnya sadar bahwa dakwah itu menjadi tanggung jawab kita secara mendasar sebagai seorang muslim maka fase selanjutnya ketika kita mengubah kepribadian kita dihadapan Allah dan umat manusia, itu adalah bagaimana kita bisa membentuk syakhsiyah barizah atau ketokohan publik. Seorang Muslim yang juga seorang da’i, maka dia harus bisa berusaha semaksimal mungkin untuk menjawantahkan diri dia menjadi seorang tokoh publik. Dan syakhsiyah barizah disini adalah kehadirannya di hadapan publik itu diterima, kehadirannya selalu dirindukan, hilangnya dia selalu disedihkan. Jadi bagaimana kita sebagai seorang Muslim ini, kehadiran kita di tengah-tengah umat manusia dinantikan oleh mereka tetapi juga menangisi kehilangan kita. Itulah kepribadian utama seorang da’i dan juga ciri-cirinya banyak sekali.

Tips mudah dan singkatnya ketika membicarakan tentang public speaking. Hal utama yang mesti dipersiapkan adalah masalah konten, berusaha menyajikan konten dengan integratif dan maksimal, yang kedua “bungkusnya”, misalnya gestur, mimik wajah, dsb tapi tidak terlalu penting.

 “Kepercayaan diri itu timbul ketika kita telah berbekal”

Yang ketiga tentang retorika dakwinya. Sebenarnya bila berbicara tentang retorika, yang namanya tingkat literasi seorang manusia itu ada 3 tingkatan, yaitu membaca, menulis, dan diskusi. Kebanyakan orang yang dia bisa fasih public speaking nya, bisa mudah untuk berbicara cair di depan umum, karena dia memiliki tingkat literasi yang cukup tinggi.

 

QnA

  1. Bagaimana tips untuk melatih diri kita agar terbiasa berbicara di depan. Soalnya saya selalu merasa nervous, tetapi jika di sosial media saya aktif menulis hanya saja jika berbicara langsung saya kesulitan.

 

Seperti saya sebutkan, coba jaga kebiasaan aktif di media sosial agar dapat meningkatkan tingkat literasi. Banyaklah membaca, kemudian menulis, coba sedikit-sedikit diskusi dengan orang lain.

 

  1. Menurut akang, bagaimana cara kita berinovasi dalam dunia public speaking ini ? Apakah perlu ada inovasi terbaru seperti menggunakan media lain ?

 

Kalau inovasi sekarang ini banyak public speaker yang memanfaatkan konten-konten yang dapat ditertawakan agar dapat mencairkan suasana, tapi tidak terlalu menjadikan ini sebagai senjata utama, yang penting konten yang diberikan tersampaikan secara menyeluruh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *