Sejarah

Sejarah Singkat LDK UKDM UPI

UKDM atau Unit Kegiatan Dakwah Mahasiswa adalah Lembaga Dakwah Kampus yang berawal dari FOSMI (Forum Silaturahmi Mahasiswa Islam) FPMIPA IKIP Bandung kala itu. FOSMI merupakan forum silaturahmi yang bergerak mensyiarkan islam di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
Pada tahun 90-an terjadi pelarangan penggunaan Jilbab di berbagai satuan pendidikan termasuk salah satunya di perguruan tinggi termasuk IKIP Bandung. Hal ini memicu penolakan dari mahasiswa Islam. Kemudian terjadilah demo besar-besaran mahasiswa se-Bandung Raya yang salah satu pusatnya di IKIP Bandung. Isu penolakan pelarangan jilbab ini juga seiring dengan ditolaknya SK Menteri tentang NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan). Lokasi demo mahasiswa dipusatkan di masjid Al Furqon dengan peserta lintas fakultas dan universitas se-Bandung Raya.
Selepas peristiwa demo tersebut, tercetus ide untuk menggabungkan berbagai Rohis Fakultas menjadi satu UKM keIslaman se-IKIP Bandung yang kemudian diberi nama Unit Kegiatan Dakwah Mahasiswa (UKDM). Adapun beberapa pemrakarsanya adalah Agus Ahadi, Ahmad Yani, Munir, Euis Sufi J., Eti Nurhayati pada tahun 1990.

Sejarah Perubahan Logo LDK UKDM UPI

Perubahan logo UKDM dilakukan pada tahun 2003, sebagai amanat / rekomendasi dari SU MPA 2003 yang menghendaki perubahan logo dengan berbagai latar belakang. Perubahan logo ini dilakukan dilatarbelakangi beberapa perubahan fundamental di internal UKDM. Perubahan tersebut adalah :

1. Rebranding UKDM
Rebranding (pengukuhan image baru UKDM) sebagai Lembaga Dakwah Kampus yang dapat diterima oleh seluruh kalangan sehingga tidak bersifat eksklusif. Sebagai catatan, bahwa pada saat itu UKDM terlalu terkesan eksklusif sehingga ada kesan bahwa yang masuk ke UKDM adalah orang-orang yang “soleh” dan pintar berceramah karena dari nama saja sudah “Unit Kegiatan Dakwah”. Padahal sebagai lembaga dakwah, UKDM haruslah inklusif sehingga bisa diterima oleh banyak kalangan.
Pada SU MPA (Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Anggota) tahun 2003 sempat didiskusikan ide untuk mengganti nama UKDM UPI menjadi SALIM UPI (Persaudaraan Muslim UPI) atau KMI UPI (Keluarga Mahasiswa Islam UPI), dengan harapan bahwa mahasiswa lebih mudah menerimanya sebagaimana LDK yang lain seperti GAMAIS (Keluarga Mahasiswa Islam) atau bahkan SALAM UI (Nuansa Islam) yang nama LDK nya tidak mengandung kata-kata “Dakwah” yang masih “menyeramkan” di mata mahasiswa kala itu, terlebih lagi mahasiswa umum.
Dari SU MPA tersebut kemudian usulan pergantian nama tersebut dibawa ke PR III UPI untuk dilakukan dialog. Akan tetapi ternyata tidak mendapatkan restu dari PR III juga dari beberapa alumni yang merasa bahwa nama tersebut mengandung nilai historis yang tinggi. Akhirnya diputuskan kembali bahwa nama LDK adalah tetap UKDM.

2. Perubahan Pola Gerak
Adanya keinginan kuat agar gerakan dakwah UKDM sangat bisa diterima oleh banyak pihak (civitas akademika UPI) termasuk oleh para kader UKDM. Hal ini dilatarbelakangi oleh inklusifitas pola gerak UKDM dan dukungan kader/anggota UKDM yang melemah. Sebagai gambaran, tingkat keaktifan anggota saat itu terbilang rendah. Dari satu divisi yang beranggotakan kurang lebih lima belas orang, yang aktif hanya 2-4 orang. Diharapkan dengan perubahan logo tersebut, aktifitas UKDM akan kembali menguat.

3. Perubahan Sistem Manajemen
Pada tahun 2003 dicoba dilakukan sebuah terobosan dalam pengelolan LDK UKDM UPI. Dari yang asalnya organisasi jadul, kolot & konvensional, menjadi organisasi baru yang memiliki budaya mutu yang baik. Dari organisasi tanpa sistem manajemen mutu menjadi organisasi baru dengan sistem manajemen mutu yang baik dan pengurus yang bekerja secara professional. Perubahan ini tercermin dengan disusunnya Suporting System UKDM UPI (Susy) yang mencakup Sistem Keuangan (Financial System), Sistem Kaderisasi dan Pengelolaan Sumber Daya Manusia (Human Resource and Development System), Sistem Operasi (Operating System), dan Sistem Relasi (Public Relation).
Secara teknis sistem ini diwujudkan dalam Manajemen Mutu UKDM UPI (MM UKDM UPI) yang berisi berbagai panduan teknis dalam pengelolaan organisasi. Hal ini dibuat sebagai miniatur suatu sistem manajemen mutu yang maju semacam ISO, Baldridge dan sejenisnya. Hanya saja MM UKDM UPI tersebut merupakan panduan sederhana organisasi yang dianggap aplikatif untuk UKDM.

4. Perubahan Sistem Keanggotaan
Perubahan rancangan sistem keanggotaan UKDM yang lebih terbuka. Para pengurus UKDM direncanakan berasal dari orang-orang non karier (di luar UKDM). Secara konsep, ditetapkan agar UKDM dikembalikan ke khittahnya sebagai gabungan berbagai unsur rohis di UPI bukan sebagai organisasi yang berbasis kader. Oleh karena itu kenggotaan UKDM harus mencerminkan bahwa UKDM adalah LDK yang disokong oleh berbagai elemen rohis.
Hal ini juga tercermin dari pola pemetaan kader dakwah UPI, yang direncanakan ada pembagian angkatan dalam pengelolaan organisasi. Pada waktu itu, para pengurus UKDM dan BEM berasal dari kader veteran yang masa kuliahnya hampir berakhir (semester 7-8). Hal ini sangat tidak menguntungkan posisi UKDM, karena selain amanah kader itu banyak, mereka juga terhambat untuk menyelesaikan studinya.
Adapun pembagian generasi pengelola organisasi tersebut direncanakan dibagi sebagai berikut
• Semester 1 & 2 : Tahap belajar / inisiasi
• Semester 3 & 4 : Diproyeksikan di Jurusan / Fakultas
• Semester 5 & 6 : Diproyeksikan di Universitas (UKM, REMA UPI)
• Semester 7 & 8 : Penyelesaian studi, profesi & pasca kampus
Pembagian tersebut dimaksudkan agar terjadi ketertiban dalam pembagian kerja. Selain itu hal yang utama adalah beban kerja di UKDM dan di BEM lebih berat ketimbang di jurusan / fakultas. Orang-orang yang menghuni UKDM / BEM haruslah orang-orang yang sudah siap / matang supaya pergerakan kedua lembaga ini lebih bagus dan dinamis. Pengurus UKDM bukanlah berasal dari kaderisasi awal, akan tetapi pengurus UKDM adalah para eks rohis jurusan / fakultas yang kemudian diseleksi untuk menjadi pengurus UKDM. Sehingga UKDM dan BEM langsung siap beraksi dan tidak ada lagi masa inisiasi. Untuk itu maka diaturlah ada status kenggotaan aktif dalam AD/ART UKDM.

5. Pengukuhan Status Lembaga Dakwah Kampus
Pengakuan UKDM sebagai satu-satunya Lembaga Dakwah Kampus menjadi sangat penting. Karena hal tersebut berdampak pada networking yang dinaungi dalam satu wadah FSLDK Nasional. Pada saat itu baru terbentuk UKM KeIslaman sejenis yang pada beberapa event mencoba mewakili UPI dalam FSLDK Daerah maupun Nasional atau bahkan pada forum-forum lainnya, padahal UKDM lah yang terlebih dahulu diakui. Hal ini dicoba diatasi dengan pengukuhan UKDM UPI sebagai LDK, itulah sebabnya pada kop surat ataupun pada berbagai aplikasi penulisan “Lembaga Dakwah Kampus UKDM UPI” ditulis satu paket. Berbeda dengan masa sebelumnya yang hanya mencantumkan UKDM UPI saja. Maksudnya untuk menguatkan pesan bahwa LDK nya UPI adalah UKDM, bukan yang lainnya.
Penguatan tambahan pun dilakukan dengan memposisikan UKDM sebagai pusat aktifitas mahasiswa Islam di UPI. Penguatan ini dicerminkan dengan tagline “ The Center of Moslem Student Activities”. Penerapan dari tagline ini salah satunya adalah sinergisasi rohis jurusan-fakultas-UKDM dalam Muktamar Dakwah Kampus .

6. Perubahan Image Anggota
Latar belakang yang terakhir ini tidak terlalu fundamental, tapi cukup berpengaruh. Logo UKDM yang lama secara visual tergambar seperti roda gigi. Logo ini dianggap terlalu FPTK, padahal UKDM adalah UKM tingkat universitas. Apalagi diperkuat fakta bahwa mayoritas pengurus dan anggota UKDM dari tahun 1999-2003 adalah orang-orang FPTK. Sehingga ada anggapan waktu itu, bahwa UKDM adalah organisasi yang didominasi oleh dan untuk FPTK. Untuk mengcounter anggapan tersebut, maka logo UKDM sepertinya harus disesuaikan.